Kaprodi SKI menjadi narasumber di Radio Mu

Ahad tanggal 18 April 2021, Kaprodi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Riswinarno SS, MM, hadir dalam acara Kisah Sang Pencerah, pada kesempatan kali ini beliau berbicara mengenai Ramadhan di Jawa bersama Radio Mu, kerjasama Museum Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta.
Awal mula Riswinarno diminta untuk menjadi narasumber di radio tersebut, karena beliau sudah beberapa kali mengisi acara di media digital tersebut, sehingga pada event kali ini merupakan kegiatan lanjutan dari tergabungnya beliau dalam tim ahli pendirian Museum Muhammadiyah.
Menurut Riswinarno, Ramadhan di Jawa bukan merupakan hal yang baru lagi bagi masyarakat Jawa, karena momentum ini menjadi tradisi agama sekaligus tradisi budaya yang selalu dinanti oleh masyarakat. Berbicara mengenai Ramadhan, harus dimulai dengan agama yaitu agama Islam, sebagai agama yang mewajibkan umatnya untuk melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Agama dalam bahasa Jawa yang berasal dari kata agêman dan ugêman yang artinya pedoman dan baju/pakaian, sehingga jika digunakan dalam istilah sehari-hari maksudnya adalah suatu sikap/pakaian yang merupakan bagian dari kehormatan diri seseorang.
Dalam masyarakat Jawa, sejak kecil, anak-anak sudah diajari untuk berpuasa, untuk melatih mereka sabar, jujur, têpo sêliro, êmpan papan, mikul dhuwur mêndhêm jêro, dan kegiatan positif lainnya sehingga tujuan dari puasa itu sendiri bisa terwujud yaitu terwujudnya harmonisasi hubungan hamba dengan Tuhannya (habluminallah) dan sesama manusia (hablumminanash), juga harmoni dengan lingkungan sekitarnya (habluminal’alam). Ramadhan di Jawa, menjadi kegiatan yang sangat meriah, memunculkan tradisi-tradisi keagamaan, sosial dan budaya yang biasanya dilaksanakan hanya setahun sekali yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebelum datangnya Ramadhan, masyarakat Jawa sudah semangat menyambut Ramadhan dengan tradisi nyadran dibulan Ruwah (bulan Jawa) atau bulan Sya’ban (sebelum bulan Ramadhan) dimana kegiatan ini merupakan suatu rangkaian tradisi budaya berupa pembersihan makam leluhur, berdoa, ziarah leluhur sekaligus mendoakan para sanak saudara dan orang tua yang telah meninggal. Puasa bagi masyarakat Jawa bukan hanya pasa, nahan luwe atau menahan lapar secara fisik, tapi juga menahan lapar rohani bagi orang Islam, agar mendapat esensi atau tujuan dari puasa itu sendiri yaitu daya linuwih, yang jika disinkronkan dengan tradisi Jawa, puncak kemenangan puasa secara personifikasi yaitu mendapat kesaktian, kelebihan dengan proses ngelmu (mendapat ilmu).
Bahkan dalam kebudayaan Jawa jauh sebelum Islam hadir, sudah ada tradisi tapa bisu, tapa pêndhêm, tapa ngramè, dimana kegiatan itu merupakan lelaku atau perilaku untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pemilik dari hingar bingarnya pengaruh luar, sehingga jika ingin lebih dekat dengan Tuhannya, seorang yang sedang lelaku (melaksanakan ritual) harus menjauh dari dunia luar agar mampu mengendalikan dan menguasai kenikmatan duniawi untuk mencapai hajat tertentu. Puncak dari kemeriahan kegiatan bulan Ramadhan yaitu Idul Fitri, tradisi di Jawa sangat kita rasakan saat ini, bahkan masyarakat Islam yang tidak berada di Jawa saja melakukannya dengan suka cita, seperti tradisi mudik yang Pemerintah Indonesia saja kadang kewalahan mengaturnya akibat timbulnya kemacetan dan tingginya siklus ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi. Juga ada tradisi sungkeman dimana ajang silaturrahmi, kaum muda mendatangi orang-orang yang lebih tua/dihormati untuk saling memaafkan, juga ada tradisi Ketupat yang jaman nenek moyang dulu, tradisi Ketupat sebenarnya dilakukan ketika hari ke-7 setelah Idul Fitri, ketika umat Islam selesai melaksakan 6 hari puasa di bulan Syawal.
Menutup reportase kegiatan tersebut, prospek untuk kerjasama prodi SKI dalam kesempatan bincang-bincang ini, Riswinarno menyampaikan adanya prospek kerjasama prodi tentunya akan lebih terbuka luas, asal dilakukan secara profesional, apalagi jika nanti museum Muhammadiyah telah secara resmi dilaunching. Beliau juga berharap, kegiatan ini menjadi awal dari bentuk kerjasama penelitian, pengabdian juga pendidikan pun sangat mungkin terfasilitasi, baik untuk institusi, dosen dan mahasiswa secara bersama-sama ataupun mandiri.