Merunut Legitimasi Sultan Agung: Prodi SKI dan BRIN Bedah Ulang Kekuasaan Mataram
Merunut Legitimasi Sultan Agung: Prodi SKI dan BRIN Bedah Ulang Kekuasaan Mataram
YOGYAKARTA (ski.uin-suka.ac.id) - Apa yang membuat kekuasaan seorang sultan dianggap sah di mata rakyatnya: garis keturunan, restu ulama, atau simbol-simbol yang sengaja dibangun lewat naskah dan bangunan suci? Pertanyaan itu menjadi benang merah Diskusi Kelompok Terumpun (DKT) bertajuk "Kekuasaan dan Legitimasi di Kesultanan Mataram pada Masa Sultan Agung", yang digelar Kamis (9/7/2026) di Ruang Magister Lantai 2, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FAIB) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Forum ini merupakan hasil sinergi Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) UIN Sunan Kalijaga dengan dua unit riset di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN): Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, dan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra. Keduanya menurunkan periset untuk duduk satu meja dengan akademisi kampus, membedah era keemasan Mataram dari sisi politik, agama, hingga budaya.
Empat Sudut Pandang, Satu Persoalan
Bertindak sebagai moderator, Dr. Wahyu Iryana, M.Hum. mengarahkan jalannya diskusi yang menghadirkan empat pemateri lintas disiplin. Naskah dan aksara Jawa dikupas oleh Prof. Dr. Maharsi, M.Hum., sementara Prof. Dr. Ibnu Burdah, M.A. melengkapi pembahasan dari sudut pandang berbeda.
Diskusi kemudian bergeser ke jejak fisik kekuasaan. Dr. Uki Sukiman, M.Ag. menyoroti peninggalan kebendaan dan tata ruang, sedangkan Drs. Muhammad Chawari, M.Hum. membawa perspektif arkeologis untuk membaca artefak-artefak yang tersisa. Arkeolog Sinarno turut memberi masukan, didampingi jajaran dosen SKI yang bertugas sebagai tim pembahas.
Ragam sudut pandang ini bertemu pada satu titik: bagaimana kekuasaan tidak hanya diwariskan, tetapi juga dirawat dan dipertontonkan lewat berbagai medium-mulai teks, ruang, hingga bangunan.
Dari Babad Tanah Jawi hingga Kompleks Makam
Sepanjang diskusi, para periset menelusuri jejak legitimasi Sultan Agung lewat sejumlah sumber primer: babad Nusantara seperti naskah Tanah Jawi, catatan ekspansi militer Mataram ke Surabaya, dan kajian struktural atas kompleks permakaman suci yang selama ini dibaca sebagai simbol kedekatan sang penguasa dengan ranah spiritual.
Sesi tanya jawab yang mengiringi pemaparan berlangsung hidup. Sejumlah pertanyaan kritis dan tawaran kerangka teori baru dari peserta ikut memperluas arah diskusi, jauh dari sekadar pemaparan satu arah.
Membuka Ruang bagi Hipotesis Baru
Dekan FAIB UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Nurdin, S.S., M.A., yang membuka acara ini menyebut kolaborasi dengan BRIN sebagai langkah nyata memperkuat riset kesejarahan dan kebudayaan Islam di Tanah Air-sebuah pertemuan yang mempertemukan kekuatan akademik kampus dengan sumber daya riset nasional.
Dari forum lintas disiplin ini, sejarawan, arkeolog, dan filolog yang terlibat berhasil merumuskan sejumlah hipotesis historis baru tentang Mataram di masa Sultan Agung. Rumusan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk membaca ulang sejarah Islam Nusantara secara lebih mendalam dan berbasis bukti-bukan sekadar warisan cerita turun-temurun.