Peran Perempuan Dalam Lintasan Sejarah Islam Nusantara

Dibingkai sebagai kegiatan Kuliah Umum untuk mahasiswa angkatan 2020, Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Perempuan Dalam Lintasan Sejatah Islam di Nusantara” yang dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Maret 2021. Kegiatan rutin ini, seharusnya diselenggarakan setiap awal semester gasal untuk menyambut para mahasiswa baru,karena adanya kebijakan penyesuaian anggaran dan situasi pandemi saat ini, maka event tersebut sempat tertunda, sehinga baru terlaksana sekarang. Dengan tetap mengikuti protokol kesehatan Covid19, kegiatan ini sukses dilaksanakan secara daring dan luring. Acara ini dibuka langsung oleh Dr. Muhammad Wildan, MA selaku Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga dan sambutan dari Riswinarno, SS, MM sebagai Ketua Prodi SKI.

Menyoal peran perempuan dalam lintasan Sejarah Islam Nusantara, menjadi satu objek sekaligus perspektif yang menarik untuk dibicarakan. Sejarah Islam yang cenderung berperspektif patriarkhat dan peristiwa para lelaki, menjadikan perempuan terbatas sekali pembahasannya. Padahal, dalam realitanya dengan segala kemampuan dan keahlian spesifik yang dimiliki perempuan, perubahan peradaban dunia banyak juga diakibatkan peran para perempuan ini. Tidak berarti mengarahkan semua tulisan mahasiswa baru tentang perempuan, kegiatan ini lebih memberikan wacana penulisan secara perempuan.

Narasumber Kuliah Umum yaitu Anna Mariana, MA yang merupakan pegiat sekaligus penulis sejarah perempuan yang cukup produktif, melalui lembaganya yaitu Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan (RUAS) dengan materi yang disampaikannya, membuka dan memberikan ide, wacana, sekaligus sumber penulisan tentang perempuan. Menyesuaikan dengan tema yang diajukan, materinya membicarakan tentang hakekat perempuan, sejarah Islam Nusantara, dan peran perempuan dalam lintasan sejarah Islam di Nusantara. Ada banyak lini-lini masa perempuan dengan kekhasan dan peran masing-masing yang bahkan seringkali tidak terpikirkan. Di akhir diskusi, moderator acara, Himayatul Ittihadiyah, M. Hum. menegaskan kembali, bahwa ternyata penulisan sejarah Islam di Nusantara itu bukan peristiwa tunggal yang kaku, tetapi peristiwa yang dapat dilihat, ditelaah dengan berbagai perspektif dan teori. Ketika perempuan ditempatkan pada konteks peradaban Islam, maka berbagai spesifikasi sejarah Islam Nusantara menjadi lebih menarik.