Membaca Ulang Sejarah Islam Indonesia dalam Perspektif Maritim

Yogyakarta, 7 Mei 2026 - Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Studium Generale bertema “Nusantara dan Jaringan Islam Samudra Hindia” pada Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Convention Hall Lantai 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menghadirkan Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., Guru Besar Sejarah Maritim dari Universitas Diponegoro, sebagai narasumber utama.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi SKI, khususnya mahasiswa angkatan 2025. Studium Generale tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan akademik mahasiswa dalam memahami sejarah Islam Indonesia melalui perspektif maritim. Acara dipandu oleh Dr. Himayatul Ittihadiyah, M.Hum., dosen Program Studi SKI, yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantar acara, moderator menyampaikan bahwa kajian sejarah Islam Indonesia selama ini masih banyak ditulis dengan sudut pandang daratan, seperti kerajaan, kekuasaan politik, dan wilayah teritorial. Oleh karena itu, kehadiran Prof. Singgih diharapkan mampu membuka cakrawala baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya laut, pelabuhan, perdagangan, dan mobilitas manusia dalam proses terbentuknya Islam di Nusantara.

Dalam pemaparannya, Prof. Singgih menegaskan bahwa sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari jaringan maritim global. Menurutnya, Islam di Indonesia berkembang bukan dalam ruang yang tertutup, melainkan melalui konektivitas lintas kawasan yang melibatkan pedagang, ulama, komunitas diaspora, serta jaringan budaya di Asia Selatan, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Gagasan utama ini sejalan dengan tesis bahwa Islam Indonesia merupakan produk dari jaringan maritim global yang bersifat dinamis, hibrid, dan transregional.

Prof. Singgih juga menekankan bahwa laut bukanlah penghalang, melainkan penghubung antarkawasan, budaya, dan peradaban. Pelabuhan-pelabuhan di Nusantara seperti Aceh, Malaka, dan Gresik menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa, tradisi, ide, dan praktik keagamaan. Dari ruang-ruang maritim inilah proses Islamisasi berkembang secara damai melalui perdagangan, pendidikan, hubungan sosial, perkawinan, dan akulturasi budaya. Selain itu, Prof. Singgih mengkritik historiografi Islam Indonesia yang selama ini cenderung “darat-sentris”. Menurutnya, penulisan sejarah yang terlalu berpusat pada kerajaan, negara, dan wilayah daratan berisiko mengabaikan peran penting pelabuhan, jalur perdagangan, serta aktor-aktor maritim dalam perkembangan Islam Indonesia. Padahal, sejarah Islam Nusantara justru banyak dibentuk melalui mobilitas laut dan jaringan global yang menghubungkan berbagai wilayah dunia.

Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Singgih juga menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Nusantara berbeda dengan kawasan daratan seperti Persia atau Asia Tengah yang banyak dipengaruhi ekspansi militer. Di Indonesia, Islam berkembang melalui pendekatan yang lebih adaptif, yakni melalui perdagangan, pendidikan, jaringan ulama, komunitas diaspora, dan kebudayaan lokal. Hal ini membentuk karakter Islam Indonesia yang terbuka, kosmopolitan, serta mampu berinteraksi dengan berbagai tradisi masyarakat pesisir.

Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya membaca sejarah secara lebih luas dan multidimensional. Mahasiswa tidak hanya diajak melihat Islam Indonesia sebagai fenomena lokal, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika global yang terbentuk melalui jalur samudra, mobilitas manusia, dan pertukaran budaya lintas kawasan. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa aktif menyimak materi, mencatat gagasan penting, serta mengikuti pemaparan mengenai sejarah maritim, globalisasi, dan perubahan cara pandang dalam historiografi Islam Indonesia. Melalui Studium Generale ini, Program Studi SKI UIN Sunan Kalijaga berharap mahasiswa mampu mengembangkan perspektif sejarah yang lebih kritis, terbuka, dan kontekstual.

Kegiatan Studium Generale ini sekaligus menegaskan komitmen Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga dalam memperkuat tradisi akademik, memperluas wawasan metodologis mahasiswa, serta mendorong lahirnya kajian-kajian sejarah Islam Indonesia yang lebih relevan dengan perkembangan keilmuan global.